Suatu hari saya (Rheza) sedang ngobrol dengan anak kedua kami, Rachel. Dia cerita kalau teman sekelasnya suka menggunakan 'bad words.' Penasaran, saya tanya kata apa yang temannya suka gunakan. Dia enggan ngasih tau saya karena tidak mau ngomong kata itu. Katanya 'It's the S-H word daddy' Lalu saya menebak dan bertanya kepadanya 'is it S-H-*-*?' Dia langsung bilang 'NO, it's Shut up!' Dan begitulah ceritanya ayah yang hebat ini sukses mengajarkan anaknya satu lagi 'bad words' yang belum dia kenal!
Siapa yg pengen anaknya bisa berkata jorok, kasar atau swearing? Kami sih blom pernah ketemu dengan orang yang pengen. Kalau ada, kami tertarik mendengar alesannya (email us please!). Biasanya yang kami tau, kebanyakan orang tua malah sebaliknya.
Sadar engga sadar, kita sering tanpa sadar memberi contoh untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak pengen anak kita lakukan. Anak-anak pintar mencontoh, meniru orang tuanya. Aku (Puspa) ingat waktu kecil mamaku berulang-ulang mengingatkan untuk jangan meniru orang yg suka ngomong kotor. Mamaku juga seorang yang kalau bicara santun dan seperlunya. Akupun belajar untuk engga ngomong kotor.
Saya (Rheza) pernah ngobrol dengan seorang teman kerja yang mengeluh kalau anaknya yang belum 10 tahun sudah lancar swearing bermacam-macam kata kotor di rumah dan di depan orang tuanya. Ternyata orang tuanya juga sehari-hari sering swearing di depan anaknya, tentu saja anaknya cepat belajar dari mereka kalau swearing itu sesuatu yang ok dilakukan.
Jadi, apakah swearing itu ok bagi kita orang tua Katolik? Apakah kita menganggap kalau swearing sesekali itu boleh? Kami teringat Yesus berkata "Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang" (Mat 15:18). Jadi, perkataan apapun yang keluar dari mulut biasanya berasal dari dalam hati dan pikiran seseorang. Perkataan negatif biasanya berasal dari suasana hati dan pikiran yang negatif. Sebaliknya, perkataan positif juga berasal dari pikiran yang sedang positif. Kalau begitu, perkataan kotor, tidak senonoh, dan nama-nama binatang berasal dari hati & pikiran yang seperti apa dong?
Kami juga teringat ada ditulis di kitab Amsal: "Mulut orang benar mengeluarkan hikmat" (Ams 10:31a). Jadi seorang yang benar (pengikut Kristus) selayaknya menggunakan mulutnya untuk berkata-kata hikmat dan bijaksana. Ini juga merupakan ajakan untuk menggunakan karunia bicara yang diberikan pada kita untuk menghibur sesama, menguatkan mereka yang lemah, mengajar kebaikan dan memuji Tuhan.
Kami pernah baca berita ada sebuah eksperimen tentang dua tanaman. Ada dua tanaman yang identik, yang satu setiap hari diberi kata-kata yg baik, positif dan yang satu lagi diteriaki kata-kata negatif. Di akhir eksperimen tersebut, tanaman yang awalnya sama-sama sehat ended up dalam keadaan yang berbeda. Yang diajak ngomong baik-baik tetap subur dan yang diteriaki kata-kata buruk jadi lemas dan hampir mati. Kalau tanaman saja hidupnya terpengaruh dengan kata-kata positif, bagaimana dengan hidup manusia? Pasti dampak perkataan kita juga jauh lebih nyata.
Jadi menurut kami seorang Katolik sudah seharusnya menghindari perkataan tidak baik dan menggunakan mulut kita untuk kebaikan dan untuk memuliakan Tuhan. Kalau begitu, sudah selayaknya juga orang tua Katolik berusaha menjadi contoh yang baik supaya anak kita tumbuh menjadi seorang Katolik yang baik juga. Bagaimana menurut anda?
Tuhan Memberkati.
Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat.
Amsal 10: 31
