Anak kedua kami barusan menerima sakramen tobat/rekonsiliasi untuk pertama kalinya. Nah, di paroki kami ini pelajaran persiapan untuk sakramen ini menarik dan beda dengan pengalaman kami waktu dulu ikut pelajaran persiapan. Yang mengajar bukan Romo atau pengajar dari paroki, tapi orang tua dan anak dibagi-bagi ke kelompok kecil. Masing-masing orang tua diberi giliarn untuk memimpin diskusi kelompok bersama anak-anak mereka sementara pengajar hanya membuka, menutup dan memberi masukan umum singkat setiap minggunya. Ada satu minggu dimana anak-anak ditanya tentang detail babtisan mereka, seperti apa nama babtisnya, kapan dibabtis dan siapa wali babtisnya. Ada seorang anak di dalam kelompok ini yang engga tau siapa Godparentsnya. Ada juga seorang bapak yang lantas menelepon istrinya di rumah karena ia dan anaknya lupa nama wali babtisnya dan bahkan di gereja mana ia dibabtis. Awalnya aku (Rheza) heran juga kok bisa lupa. Tapi setelah dipikir-pikir aku juga udah lebih dari 30 tahun engga ada kontak sama wali babtisku. Bahkan aku juga engga bisa bayangin wajahnya seperti apa, cuman tau namanya aja. Di sisi lain, Puspa masih inget dan tau siapa wali babtis dia, tapi juga tidak ada hubungan dengannya. Wali babtis Puspa itu dipilih oleh panitia babtis dan wali ini juga jadi wali babtis semua orang yang dibabtis pada hari itu. Karena melihat kalau dalam prakteknya pengalaman kami dengan Godparents dan peran mereka berbeda-beda, kami jadi penasaran dan mulai coba cari-cari sebenarnya apa sih peran seorang wali babtis itu?
Semakin membaca tentang topik ini, aku terkagum-kagum takjub akan apa yang aku temukan. Istilah sini mungkin: MIND BLOWN! Pertama, wali babtis itu haruslah seorang Katolik yang mempraktekkan imannya secara baik. Kedua, ternyata mereka punya peran penting dalam pendidikan iman anak babtisnya dan membantu orang tuanya supaya anak-anak ini bisa jadi seorang Katolik yang beriman kuat. Untuk itu, butuh Godparents yang bisa memberi contoh hidup iman yang mantep. Ketiga, dan ini point yang paling mengejutkan buat aku yaitu kalau orang tua anak babtis ini tidak mau atau tidak mampu mendidik anaknya secara Katolik, Godparents ini diharapkan oleh Gereja untuk mengambil alih peran pendidikan iman ini! Jadi Godparents itu bukan hanya seorang yang hadir saat acara lalu hilang dari hidup anak ini, tapi seorang yang berperan penting sekali selama anak ini bertumbuh.
Kami bersyukur karena ketiga Godparents anak kami adalah orang Katolik yang beriman sampai saat ini. Mereka juga punya relasi dengan kami dan anak-anak kami. Mereka peduli dan sayang pada anak babtisnya. Malah ada salah satunya yang tidak hidup sekota dengan kami masih mau mengontak dan connect dengan anak babtisnya. Kami juga bisa melihat kalau anak-anak kami respect kepada Godparentsnya dan bisa 'look up to them' sebagai role model yang baik. Kami juga berharap kalau kami bisa menjadi Godparents yang baik bagi anak-anak babtis kami.
Kalau kamu tertarik dengan salah satu sumber informasi tentang Godparents ini, bisa diklik disini.
Tuhan Memberkati!
Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Yohanes 3: 5
