Sekitar tahun 2000-an awal, aku (Rheza) mengalami suatu pengalaman pembaharuan dalam Roh setelah pulang dari retret di Tumpang. Waktu itu semangat rohani begitu menyala-nyala dan engga lama setelah itu aku mulai bergabung dalam komunitas dan aktif pelayanan. Tuhan serasa begitu nyata dalam hidup sehari-hari, setiap kali berdoa, datang ke Sakramen Ekaristi atau melayani aku merasa sangat 'in.' 

Dalam pelayanan aku makin lama makin tambah sibuk, mulai dari membantu seksi perlengkapan, lalu ikut tim doa. Engga lama ditunjuk jadi wakil ketua sel grup, ketua sel grup lalu jadi ketua Persekutuan Doa. Kegiatan PD muda-mudi ini cukup padat, kami ada PD dua minggu sekali, latihan PD setiap minggu, doa syafaat setiap hari Senin, sel grup setiap hari Sabtu. Lalu ditambah lagi saat kami membuat acara baru sel grup untuk ketua sel setiap hari Rabu. Kalau lagi ada acara besar dan tergabung dalam panitia, tambah lagi kegiatannya. Kalau dipikir-pikir bisa setiap hari ada acara, tapi karena semangat dan rela semua ini tidak berat buat aku jalani. 

Saat aku jadi ketua PD ini, aku juga sambil kuliah, awalnya ambil double degree. Di tahun pertama, nilaiku cukup bagus sampai diberi surat pujian oleh kepala departemen karena nilaiku itu termasuk jajaran atas diantara sekitar 200 murid Psikologi yang lain. Tahun kedua, nilai mulai turun karena kurang belajar dan terlalu sibuk pelayanan. Double degree-pun aku lepaskan karena selain tidak sanggup, aku kurang suka dengan jurusan kedua yang aku ambil, yaitu Human Resource. Di tahun ketiga aku hampir tidak lulus karena bisa lupa mengerjakan satu assignment besar, lagi-lagi karena terlalu sibuk dengan pelayanan. Aku butuh nilai minimal 65% untuk melanjutkan tahun ke-empat dan 70% untuk mengambil S2. Kalau nilaiku tidak cukup, aku tidak akan bisa mengambil ijin praktek dan sia-sia sudah belajar tiga tahun terakhir itu. Orang tua juga mulai menegur karena aku hampir tidak pernah ada di rumah, selalu keluar setiap sore sampai larut malam. Kadang malah engga pulang sampai besoknya. Saat ditegur aku merasa tersinggung, kenapa orang tua harus protes? Aku kan engga berbuat nakal atau macam-macam, ini kan semua pelayanan untuk Tuhan. Aku merasa orang tua khawatir dengan anaknya ini.

Hidupku bagai punya dua sisi, dalam studi bisa dibilang aku pas-pasan dan hampir gagal tapi dalam komunitas aku 'sukses.' Semakin sibuk dan banyak berkarya dalam pelayanan semakin banyak aku dipuji. Ada seorang pewarta ternama dari Indonesia yang memuji aku secara khusus, membuat aku merasa special. Dulu juga aku berpikir kalau hidup rohaniku mantep, aku doa setiap hari, puasa setiap hari, ngaku dosa setiap bulan dan cuman denger lagu-lagu rohani. Ada temen dari gereja sebelah sampai minta tips gimana aku bisa engga dengerin lagu-lagu 'dunia' lagi. Pernah juga aku pantang nonton film bioskop, dan saat aku diajak pergi nonton bareng temen kuliah aku tetep pergi supaya engga ngecewain mereka, tapi selama di bioskop aku tutup mata. Engga tau juga logikanya apa, tapi singkat kata aku merasa melakukan hal-hal yang suci dan berkenan buat Tuhan dengan menjauhi hal-hal duniawi yang 'kurang bersih.'

Kembali ke moment dimana aku hampir fail kuliah. Syukur akhirnya aku engga fail, tapi itu juga hanya karena karunia Tuhan. Ada beberapa peristiwa dimana Tuhan kasih hikmat sehingga nilaiku bisa pas sedikit diatas 65% dan bisa lanjut kuliah. Tapi, jalan untuk aku ambil S2 yang sangat kompetitif sudah tertutup dan meskipun aku bisa praktek nantinya, pilihan karirku bakal terbatas. Di saat inilah kesadaran mulai menimpa kepalaku, kalau apa yang aku anggap suci belum tentu benar-benar suci. Mungkin pembaca berpikir: 'ini sih fanatisme' atau 'sombong rohani.' Ada benarnya kalau kamu berpikir begitu.

Lompat 20 tahun ke tahun 2021, aku masih tergabung dalam komunitas dan masih rindu melayani dimana aku bisa. Kerjaanku sibuk, tapi aku memastikan supaya tidak meninggalkan keluarga setiap hari, punya waktu untuk mengajak anak-anak ke taman, punya waktu keluar berdua dan ngobrol bersama istri. Oya, aku juga kuliah lagi untuk 'menebus dosa' dan rasa bersalah di masa lalu. Aku terus berdoa pada Tuhan dan cek dengan istri dalam mengambil keputusan tentang berbagai macam kegiatan hidup sebagai cara supaya aku tidak salah memilih jalan lagi mengikuti hal-hal yang terlihat suci, tapi sebenarnya tidak suci. Aku sadar kalau meniti jalan yang benar dalam Tuhan hanya bisa kulakukan dengan mendengarkan Tuhan dan sesama, bukan mengikuti keinginan dan ambisiku sendiri.

Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. (Ef 5:8‭-‬10)