Sebulan ke belakang merupakan masa sulit bagi saya. Setelah mengalami ketidakpastian akan nasib pekerjaan saya selama setahun ini, disambung mengalami perlakuan buruk dari leadership perusahaan, sekarang saya ditugaskan untuk mengurangi jumlah karyawan di tim saya - suatu tindakan yang akan membuat kawan-kawan kerja yang saya kasihi kehilangan pekerjaan mereka. Semua faktor diatas disebabkan kuasa-kuasa yang di luar kendali saya, tapi saya-lah yang harus "membersihkan" dampak dari keputusan-keputusan buruk yang dibuat orang lain.

Pagi tadi saat mendaraskan Lauds dan Office of Readings hari ini, saya membaca Injil Matius 14: 22-33 tentang Petrus yang berjalan diatas air (baca: mulai tenggelam saat mencoba berjalan menuju Yesus). Saya merasa kalau badai angin sakal yang dialami Petrus dan murid Yesus lain ini seperti badai hidup yang sedang saya jalani.

Seperti Injil hari ini, saya menyadari bahwa Tuhan tidak selalu menjawab doa kita dengan menghilangkan badai itu. Ada saat dimana masalah hidup harus kita alami dan lalui, meskipun kita tidak merasa mampu dan tidak merasa mengerti kenapa harus kita jalani. Sudah setahun lebih saya terus berdoa supaya "cawan ini boleh berlalu" tapi yang Tuhan berikan bukan hilangnya masalah dalam hidup, tapi kekuatan, hikmat atau konsolasi dimana stress saya bisa lenyap sementara. Jadi, saat membaca Injil saya merasa kalau masalah saat ini belumlah boleh berlalu. Spontan doa saya dalam hati: Tuhan, bantu saya berjalan diatas air!

Keluarga saya biasa pergi ke misa hari Minggu sore. Hari ini saya sungguh menantikan misa, terutama akan dibacakannya Injil dan mengharapkan Tuhan boleh berbicara lewat homili sang Pastur. Bacaan pertama dari kitab Raja-raja mengingatkan saya kalau Roh Tuhan hadir dalam angin sepoi-sepoi dan mengajak saya untuk benar-benar mendengarkan suaraNya. Sampai ke bacaan Injil dan homili, seperti yang saya harapkan, saya diingatkan bahwa dalam menghadapi masalah yang Kristus berikan adalah damai dan kehadiranNya. Sampai di titik ini, hati saya sudah mulai tenang setelah sepanjang minggu mengalami ketegangan besar.

Saya sudah cukup senang dengan jawaban dan konsolasi Tuhan dan tidak menyangka bahwa Ia masih mau terus berbicara pada saya. Setelah liturgi sabda, mulailah liturgi Ekaristi. Pada saat Pastur mendoakan doa Ekaristi, saya melihat hosti diangkat, tapi mata saya juga terpaku pada salib besar di belakang Pastur dengan corpus Yesus yang menggantung. Ada suara di dalam hati: "My body is broken for you so that you may be whole" - suatu pesan yang menyentuh, meski berbeda dari doa permohonan saya untuk boleh berjalan diatas air. Suara tidak berhenti sampai disitu, Tuhan lalu berkata kira-kira seperti ini: "As I have loved you, you are also to be broken so that others may be whole, a sign of your love for Me and others" Dengan ini saya diingatkan pada alasan mengapa saya dipanggil untuk melayani Tuhan. Mungkin sekilas terdengar aneh kalau 'dipecahkan' itu adalah suatu yang baik, tapi buat saya pesan ini sangat make sense. Saya bukanlah seorang yang super suci, ada banyak sifat dan perbuatan saya yang gelap dan menyakiti orang lain. Perjalanan mengikuti Tuhan mengajarkan saya kalau proses mendekati Tuhan adalah proses untuk dibentuk dan diubah untuk menjadi seorang figur pribadi yang Tuhan sudah rencanakan untuk saya. Untuk dibentuk menjadi gambaran baru, yang lama haruslah dipecahkan untuk bisa dibangun kembali.

Sebenarnya apa yang Tuhan inginkan dari saya? Perasaan takut dan tidak berdaya dalam menghadapi masalah hidup saat ini mendorong saya untuk lebih menyerahkan diri dan percaya pada kebaikan Tuhan. Trust and surrender... Dua hal yang secara teori saya inginkan, tapi sering tidak sadar kalau kedua hal ini hanyalah bisa didapatkan saat saya menghadapi situasi mustahil dalam hidup.

Mata saya kembali tertuju pada Pastur yang memegang hosti yang sudah dipatahkan. Meski mata saya melihat figur Pastur Menard Gaspi yang memimpin misa hari ini, somehow pribadi yang saya lihat adalah Yesus sendiri. Tiba-tiba memori dari pelajaran teologi sakramental semester lalu muncul, bahwa dalam Kristus hadir secara nyata dalam Pastur yang melayani in persona Christi. Ada suara lagi yang terdengar di dalam hati saya, suatu pengulangan kata-kata Yesus dalam Injil hari ini: "Aku disini beserta-mu." Suara ini seperti suatu 'klimaks' dari seruntun pesan Kristus bagi saya hari ini. Saat Petrus yang sedang takut, pesan Yesus adalah bahwa Ia beserta mereka.

Besok saya masih harus kembali menghadapi semua masalah yang belum terpecahkan. Tapi saya bersyukur kalau saya sedikit lebih mengerti mengapa saya masih ada di dalam perahu yang digoncang badai, dan bahwa Kristus akan beserta saya sepanjang perjalanan sulit yang harus dilalui.

~Rheza~