Keluarga Katolik yang punya anak masih kecil, aku jamin pasti ngalamin hal yg mirip-mirip dengan yang kita alamin. Anak ribut, ga bisa diem, jalan-jalan di tengah gereja, naik bangku, masuk kolong, nangis, berantem sama kakak atau adiknya, rewel, nangis dan lain sebagainya.

Yang belum punya anak mungkin pernah ngalamin kesel di gereja ada anak-anak kecil yang melakukan hal-hal yg aku sebutkan tadi, sampe kalian ga bisa konsen, ga bisa denger homili Romo, kesel sama anak kecilnya, kesel sama orang tua nya sampai bete sendiri.

Bagaimana perasaan kalian saat anak kalian bertingkah ga bisa diem di gereja? Malu? Merasa Bersalah? Putus asa? Hopeless atau helpless?

Aku pernah rasain itu satu-satu, pernah berpikir rasanya lebih gampang kalo pergi ke misa sendiri aja, lebih gampang dan ga berasa malu atau sungkan sama orang sebelah kalau anakku bisa diem di gereja, atau berpikir apa aku bawa main di halaman greja aja ya? Bahkan waktu anakku masih sekitar tiga tahun, aku pernah kesel saat ada ibu-ibu tua yang memandang anakku dengan pandangan seolah-olah berkata "Gimana sih, ga bisa didik anak? Anakmu jalan-jalan di lorong dan gangu konsentrasi semua orang!" Hal ini mengganjal hati dan pikiranku, sampai aku sampaikan ke Romo paroki ku saat pengakuan dosa. Tau ga Romo paroki ku bilang apa?

Katanya: "Anak-anak kita punya hak yang sama dgn kita, dengan orang-orang yg ingin berdoa khusuk, dengan setiap umat lain yang datang ke gereja untuk berada didalam gereja, didalam misa kudus. Anak kita pun anak Allah, dia dibabtis dlm Gereja Katolik. Bahkan Yesus-pun menegaskan biarkan anak2 itu datang kepadaKu. Ini fakta! Jangan halangi anak-anak ini untuk datang ke rumah Tuhan dan mendekat ke dalam hadirat Tuhan." Ia lalu berpesan kalau lain kali ada orang yang komentar tentang anak-anakku, sampaikan pesan ini, mungkin mereka lupa.

Teman-teman, sejak itu bukan berarti membawa anak-anak ke misa tidak ada tantangan lagi ya. Selalu ada saja pikiran dan keinginan manusia untuk mencari yg mudah, yaitu meninggal anak di rumah. Tapi setiap kali aku bawa kesulitan itu dalam doa pada Tuhan, Ia tidak henti-hentinya mengingatkan aku bahwa Tuhan cinta dan menerima anak-anakku dalam Gereja-Nya.

 

Ekaristi sumber kekuatan hidup keluarga kita

Buat para mama, pernah ga saking sibuknya, kita makan asal makan buat isi perut, seadanya saja, asal kita ga lapar dan survive buat bisa menjalani aktivitas kita hari itu. Pernah ga? Aku inget banget sering kayak gitu saat mengurus anak pertama dan kedua waktu usia mereka dibawah tiga tahun. Jangankan duduk tenang di sofa, duduk buat makan lima menit tanpa gangguan anak saja adalah kemewahan hari itu. Makan juga cepet-cepet, kadang ga nikmat, kadang ga inget yg dimakan tadi apa. Meski ga ingat, tapi tetap makanan itu memberi tenaga dan kekuatan buatku untuk menjalani kegiatan selanjutnya.

Seperti makanan adalah sumber tenaga bagi tubuh jasmani kita, Ekaristi adalah makanan untuk tubuh rohani kita. Kadang mungkin kita ga bisa merasakan apa-apa saat misa kalau anak kita sedang bertingkah, tapi Ekaristi tetap memberi kekuatan untuk kita terus berjalan dalam hidup, untuk bertumbuh secara rohani. Hal ini berlaku juga bagi anak-anak kita yang ikut hadir. Keluarga kita tetap butuh tubuh Kristus yang menguatkan kita untuk menghadapi hidup ini. Masak kita menghalangi anak-anak kita untuk berjumpa dengan Yesus, sumber hidup kita?

 

Gereja tempat anak kita mengalami kasih sesama

Aku percaya sungguh penting untuk anak kita merasa diterima saat mereka datang ke gereja. Kalo kita berfokus keras supaya membuat anak diam dan behave di gereja, dengan disiplin keras setiap Minggunya, mereka akan dipenuhi rasa takut. Bukannya merasa gereja itu sebagai tempat yang baik, mereka akan merasa kalau satu jam setiap hari Minggu itu adalah tempat dimana mereka dihukum, diomelin dan disuruh diam. Dampaknya mungkin ga langsung terlihat, tapi ketika dewasa dia bisa merasa kalau gereja itu tempat dimana dia ga diterima. Gereja itu tempat dimana dia harus berpura-pura diam dan senang, behave well tapi sebenarnya di dalam merasa tertekan.

Kami kenal beberapa orang tua lain yang ikut misa yang sama dengan kami setiap minggu. Saat ketemu, mereka bukan hanya menyapa kami, tapi juga menyapa anak-anak kami satu persatu. Anak-anak mereka juga menyapa anak kami. Bukankah indah kalau anak kita mengalami diterima oleh umat yang lain? Marilah kita memberi kesan bagi anak kita dan anak orang lain kalau orang Katolik itu ramah, baik, penuh kasih dan mau menerima mereka. Juga gereja itu adalah tempat dimana mereka boleh senang, tersenyum dan mengenal orang-orang yang sayang sama mereka.

 

Gereja sebagai bekal buat anak semasa remaja

Rasanya semua orang tua khawatir akan anak-anak yang masuk masa remaja. Kita khawatir mereka terjebak pergaulan buruk, terlibat narkoba, free sex atau hal-hal lain yang tidak sesuai dengan iman kita. Sebenarnya masa pembekalan nilai-nilai yang baik supaya mereka berperilaku baik itu dimulai dari masa kecil. Rasanya percuma kalau kita mulai ngajarin mereka semua ini di saat masa remaja kalau selama 10 tahun mereka tidak pernah rutin ke gereja, mendengar firman, ajaran Tuhan dan tidak mengenal nilai-nilai Kristiani. Maka dari kecil mereka butuh diajak ber-partisipasi dalam kegiatan iman sehingga mereka punya kebiasaan yang baik yang bisa mereka ingat saat mereka bertumbuh dewasa.

Tuhan Memberkati.

Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Mat 19: 14