Beberapa minggu lalu kami mengajak anak-anak kami ke sebuah acara 'Christmas fair' dimana ada banyak rides dan games. Sang anak tengah, Rachel, senang main 'bungee jumping' dimana ia bisa melompat-lompat tinggi ke udara dengan diikat sepasang tali elastis. Sayangnya, ada sekitar 20-30 anak lain yang juga suka sama mainan ini, jadi kami terpaksa ngantri lama sekali. Setelah 45 menit, ia mulai mengeluh dan berkata 'I don't like waiting in line.'
Menanti emang sulit ya? Anak kecil tanpa diajarkan juga tidak senang menunggu terlalu lama. Seharusnya orang dewasa lebih sabar dan kuat dong dibandingkan anak kecil? Kami yang hampir berumur 40 tahun masih tidak suka menunggu terlalu lama. Mungkin kalau disuruh nunggu sebentar engga apa-apa, tapi kalau terlalu lama, pasti ada perasaan kesal, pikiran negatif, perasaan engga sabar dan mungkin bingung.
Kalau dipikir-pikir, saat ini kita hidup di dunia yang serba cepat dan instan. Contohnya, dulu kalau hobi fotografi kita harus membawa negatif film ke tempat cetak, lalu menunggu beberapa hari untuk menerima hasil fotonya. Sekarang, kita bisa mengambil foto dari HP, lalu melihat hasilnya dengan instant tanpa menunggu. Ada banyak hal lain yang juga serba cepat, seperti kopi instant, mie instant, bumbu masak instant, perbaharui SIM instant, delivery barang express dan lain-lain. Semakin cepat pengalaman kita akan sesuatu, semakin berubah juga ekspektasi kita terhadap seberapa cepat hal-hal harus berjalan. Siapa yang sekarang ini mau nunggu beberapa hari untuk cetak foto kalau bisa dapat hasilnya dalam sekejab?
Nah, kami tebak pasti ada beberapa dari kalian yang berkata: "Apaan sih, aku engga keberatan nunggu cetak foto, biar mesti beberapa hari!" Kalau ditanya kenapa mau nunggu sebegitu lama, mungkin ada yang menjawab kalau hasilnya lebih baik. Seperti fotografi, kita juga rela menunggu kalau hasil yang kita bisa dapat itu berharga. Ada banyak hal yang butuh waktu untuk menjadi berharga, seperti proses terbentuknya berlian, keju yang harus disimpan selama 1-2 tahun sebelum bisa dinikmati atau pohon cherry yang butuh 4-7 tahun sebelum bisa berbuah.
Menanti adalah pengalaman hidup manusia dan sebagai orang Katolik kita diajak untuk menanggapi penantian dengan sifat yang benar. Kami mau membagikan empat ciri khas penantian orang Kristiani yang dibahas oleh Romo paroki kami, yaitu:
- Menanti sambil berjaga-jaga, seperti kisah 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh di kitab Matius. Dengan berjaga-jaga kita siap menyambut saat Tuhan mengabulkan doa kita.
- Menanti dengan penuh kesibukan, bukan hanya berdiam diri. Pengikut Kristus masih punya tugas untuk berkarya bagi sesama, bukan hanya berfokus kepada keinginan diri sendiri. Hidup kita janganlah berhenti saat kita menanti, tapi terus aktif melayani dan menyenangkan Tuhan.
- Menanti dengan penuh pengharapan, meski pikiran negatif mampir di kepala kita dan perasaan putus asa mungkin juga hadir. Janganlah 'stuck' dengan pikiran dan perasaan yang membawa kesusahan, tapi gantilah dengan Firman dan pengharapan akan janji Allah.
- Penantian ini mengubah diri kita menjadi lebih baik. Pengalaman tidak nyaman bisa melatih kita untuk lebih sabar, lebih mengasihi, lebih tekun dan beriman. Tapi kita harus memilih supaya Tuhan mengubahkan kita dan jangan memilih untuk dihanyutkan oleh keputus-asaan.
Tuhan memberkati!
