Menjelang Pentakosta, marilah kita kembali merenungkan apa yang kita ketahui tentang Roh Kudus dan karunia-karunia-Nya bagi Gereja.

Ketika kita di baptis, kita menjadi anak Allah dan diberikan identitas yang baru. Melalui baptisan itu, kita menerima karunia Roh yang sama seperti yang disebutkan dalam Yesaya 11:2-3. Santo Petrus berkata dalam Kisah Para Rasul 2:38, “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”

Sadar ataupun tidak, kita telah menerima ketujuh karunia Roh Kudus ini ketika dibaptis: kebijaksanaan, pengertian, pengetahuan, nasihat, keperkasaan, kesalehan, dan takut akan Tuhan. Semua karunia Roh Kudus ini menopang hidup kita dan membuat kita taat serta peka dalam mengikuti dorongan Roh Kudus (KGK 1830). Karunia-karunia ini juga disebut karunia pengudusan, karena merupakan sarana yang diberikan untuk membantu kita bertumbuh dalam kekudusan.

Kali ini, kita akan membagi ketujuh karunia ini ke dalam dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah karunia yang berkaitan dengan pikiran kita, yang memberi rahmat untuk melihat dengan cara yang baru.

Karunia Kebijaksanaan: karunia ini memberi kita cara pandang baru terhadap dunia. Kita diberikan perspektif baru dalam memandang segala sesuatu. Kita tidak lagi melihat hanya melalui sudut pandang kita sendiri, yang sangat terbatas, melainkan melalui sudut pandang Allah yang lebih lengkap dan sempurna. Ketika kita melatih karunia ini, penilaian negatif terhadap orang lain akan berkurang, dan kita akan menjadi lebih toleran serta penuh belas kasih kepada sesama.

Karunia berikutnya adalah pengertian dan pengetahuan. Kedua karunia ini sangat berkaitan satu sama lain. Karunia pengertian membantu kita melihat Allah dalam kehidupan sehari-hari dan memahami ajaran-Nya. Sedangkan karunia pengetahuan memberi wawasan tentang hal-hal yang kudus, tentang rencana Allah dan kehendak-Nya. Karunia ini mengarahkan kita kepada hidup kekal. Dalam banyak kesempatan, kita mengalami “aha moment”, yaitu saat kita mampu memahami sesuatu secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai pengetahuan atau ilmu tetapi saat kita semakin mengenal Allah dan pribadi-Nya.

Kelompok kedua adalah karunia yang berkaitan dengan hati kita, yang memberi rahmat untuk memilih.

Karunia keperkasaan: karunia ini juga disebut karunia keberanian. Keberanian untuk memilih kebaikan dan kebenaran meskipun sulit. Sebagai murid-murid Yesus, kita dipanggil untuk memikul salib dan mengikuti-Nya. Artinya sering kali kita harus menghadapi keputusan-keputusan sulit. Karunia ini memberi kita keberanian untuk memilih apa yang baik dan yang dikehendaki Allah, meskipun kita mengetahui konsekuensi dari melakukan hal- hal yang benar tersebut.

Karunia kesalehan: memberi kita rahmat untuk menghormati dan menghargai Allah karena hati kita dipenuhi rasa syukur dan karena kita tidak dapat membalas semua yang Allah telah berikan kepada kita. Hormat kepada Allah ini membawa kita kepada penyembahan, kita memberikan kepada-Nya apa yang menjadi hak-Nya. Cara kita mengikuti perintah-Nya dan melayani dalam pelayanan adalah contoh bagaimana kita menghidupi karunia ini.

Takut akan Tuhan juga merupakan karunia yang sangat berkaitan dengan kesalehan. Hal ini bukanlah rasa takut karena hukuman atau takut seperti antara atasan dan bawahan (atau tuan dan budak). Karunia ini menarik kita semakin dekat kepada Allah. Kita tidak ingin memisahkan diri dari-Nya dan selalu ingin melekat kepada sumber segala kehidupan serta tinggal dekat dengan-Nya. Kita tidak ingin melukai hati-Nya melalui dosa-dosa kita.

Masih ada satu karunia lagi yang menjadi jembatan antara apa yang ada dalam pikiran dan apa yang ada dalam hati kita, yaitu karunia nasihat. Karunia ini mengambil apa yang kita lihat melalui pikiran dan mempersatukannya dengan keinginan yang ada dalam hati. Bukan hanya mengetahui prinsip, tetapi juga melaksanakannya dalam tindakan nyata. Kita dituntun dari apa yang menjadi visi kita menuju keputusan-keputusan yang nyata. Karunia nasihat menjadi seperti alarm yang menjaga kita dari bahaya.

Walaupun kita telah menerima karunia-karunia ini dalam baptisan dan sakramen krisma, kita tetap dapat memohon agar karunia-karunia ini dicurahkan kembali, dibangkitkan, dan dikuatkan terus-menerus. Sebagai anak-anak Allah, marilah kita datang kepada Bapa dan secara khusus meminta karunia apa yang paling kita perlukan saat ini. Mungkin kita lebih membutuhkan karunia keperkasaan agar memiliki keberanian untuk tetap setia. “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan tanpa membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin” (Yakobus 1:5-6).

Puspa, 15 Mei 2026