Halo Keluarga Katolik!
Di masa pandemi ini banyak dari kita yang tidak bisa ke gereja pada hari Minggu dan harus menghadiri perayaan ekaristi online. Beberapa minggu yang lalu anak bungsu kami yang berusia 4 tahun marah-marah dan mengganggu kami yang sedang berdoa di tengah-tengah misa online. Naluri kami cepat untuk mau memarahi dia untuk mengajar dia bagaimana harus bersikap saat misa. Kan tidak hormat untuk bertingkah laku 'reseh' seperti itu?
Saya punya dorongan untuk menghampiri dia. Saat ditanya kenapa dia marah, ia lantas menjawab 'aku engga suka misa online, aku sukanya pergi ke gereja!' Saya cukup tersentuh mendengar perkataan jujurnya, karena sayapun merasakan yang sama. Tanpa memarahi, saya ngobrol sejenak dengan dia dan cerita kalau kami-pun tidak suka misa online dan kalau bisa pastilah kami pergi ke gereja. Setelah itu, dia nampaknya bisa stop marah-marah dan lalu minta duduk dipangkuan kami untuk melanjutkan misa online.
Perjalanan sebagai orang tua memang menarik. Kita punya banyak tugas yang berbeda-beda: mengajar, menegur, menjaga, menghibur, mencukupi, dsb. Biasanya setiap orang tua punya approach yang lebih sering ia gunakan, ada yang lebih sering memarahi, ada yang lebih sering menghibur. Salah satu hal yang kami pelajari selama ini adalah kami butuh memilih tugas mana yang harus kami lakukan di saat yang tepat. Situasi di atas butuh kami mendengarkan putera kami karena ia punya keluhan yang membuat ia kesal dan ia ingin didengarkan. Mungkin kalau kami marahi, kami malah akan bertengkar dengan dia dan semuanya menjadi jengkel.
Kami sadar kalau approach apapun yang kami pakai, tujuan akhirnya adalah membantu anak kami untuk bertumbuh sehat tubuh, jiwa, raga dan imannya. Kami teringat ada beberapa poin baik dari kitab suci seperti:
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Ef 6:4).
Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. (Kol 3:21).
Meskipun terkadang kita akan membuat anak kita jengkel saat kita mendidik mereka, penting juga kita mengajar dalam kasih dan tidak membuat mereka menderita luka batin yang bisa mereka bawa sampai dewasa nanti. Approach yang tegas dan disiplin itu baik, tapi melukai, menghina, merendahkan, menjatuhkan semangat rasanya tidak sesuai dengan prinsip parenting secara Katolik.
Satu approach yang kami suka adalah 'emotion coaching', dimana kami ngobrol dengan anak-anak kami, mendengarkan keluhan dan perasaan mereka. Lalu tanpa menyalahkan atau cepat menasihati, memberi afirmasi akan perasaan mereka. Setelah seorang anak bisa mengeluarkan uneg-unegnya dan merasa didengarkan, lalu kami bisa memberi nasihat membangun atau usul bagaimana mereka bisa memecahkan masalah mereka secara efektif lain kalinya.
Bagaimana dengan anda? Approach apa yang lebih sering anda gunakan? Apakah approach itu selalu efektif? Apa ada approach lain yang mungkin bisa anda gunakan?
Tuhan Memberkati
