Kami belakangan ini tertarik akan perikop-perikop kitab suci yang membahas hubungan keluarga. Ada dua bacaan yang kami temukan, yaitu di Efesus 5: 22-33 dan Kol 3: 18-25. Ayat tentang ajakan untuk istri tunduk pada suami sering dipakai untuk guyonan teman-teman gereja. Sang suami menyindir istri untuk nurut sama dia, sang istri menyindir suami kembali kalo mereka yang semestinya mengasihi sang istri. Ayat ini juga sering dikritik dari segi feminisme dan dianggap merupakan pandangan stereotipikal kuno bangsa Yahudi.
Kami tertarik untuk membahas dan mensharingkan pandangan kami tentang relevansi ayat-ayat tentang hubungan keluarga ini pada kehidupan Keluarga Katolik modern. Di tiga episode berikut kami akan ngobrol tentang hubungan keluarga ini dari sudut pandang pria, wanita dan anak.
Sewaktu sebelum menikah, aku (Rheza) tertarik pada Puspa karena orangnya tegas dan mandiri. Aku engga punya harapan kalau Puspa itu harus menjadi 'stay at home mum' dan aku sebagai suami yang punya tanggung jawab penuh mencari nafkah. Kalau mendengar sharing dan pendapat teman-temanku, memang dalam budaya Indonesia ada banyak orang yang punya kepercayaan kuat seperti ini: suami keluar cari nafkah, istri tinggal di rumah ngurus anak. Aku dulu punya bayangan kalau Puspa bakal mau punya karir dan kita bakal jadi working couple yang sibuk.
Menariknya dia justru dengan sukarela mau jadi ibu rumah tangga supaya anak-anak kami punya ibu yang mengurus anaknya langsung dan punya banyak waktu untuk mereka. Menurutku meski budaya punya pendapat tertentu tentang peran apa yang 'benar' atau 'salah', kenyataannya adalah pilihan seperti ini tidak ada yang benar atau salah, karena situasi setiap keluarga berbeda. Kami memilih jalan ini dan setuju untuk memegang peran kami masing-masing di keluarga kami dan menjalankannya.
Buatku, ayat Efesus dan Kolose sangat jelas meminta sang pria untuk mengasihi istrinya seperti ia mengasihi dirinya sendiri. Terkadang dalam pengalamanku kalau suami itu sedang kesal atau marah, ia lebih gampang buat menilai istri dan apa yang sang istri 'tidak lakukan' dan kesalahan-kesalahannya. Kalau sudah marah juga pria lebih gampang buat berlaku kasar pada istrinya bukan? Nah, apapun yang istri lakukan, kalau kita berlaku kasar pada istri artinya kita juga melanggar Firman Tuhan loh. Buatku penting buat para suami membaca kedua perikop ini secara keseluruhan supaya sadar akan kewajibannya dan jangan hanya baca ayat-ayat tentang kewajiban orang lain saja!
Di Efesus, peran pria ini disamakan dengan peran Kristus sebagai kepala jemaat. Jadi kita diajak untuk belajar menjadi serupa Kristus. Buatku ini suatu tantangan dan suatu berkah yang sangat hebat dari Sakramen Pernikahan! Dengan belajar untuk menjadi suami dan bapak yang baik, sebagai pemimpin keluarga, kita dilatih untuk menjadi kudus dan semakin menyerupai Kristus. Dalam hidup sehari-hari, artinya aku lebih hati-hati dan sadar diri akan apa yang aku lakukan di hadapan istri dan anak-anak, apa yang aku katakan dan apa yang aku engga lakukan. Buat aku artinya harus benar-benar mengendalikan perasaan marah, ini challenge yang besar buat para pria. Melampiaskan kemarahan pada keluarga emang biasanya bikin pria lega, tapi menghasilkan dosa kalau buah dari marah itu adalah sakit hati istri dan anak.
Mengenai hubungan bapak dan anak, aku kenal orang-orang tua yang tidak mau memuji anaknya karena tidak mau anaknya cepat jadi sombong dan puas diri. Dalam budaya Asia cukup umum ya hal ini? Ada yang menganggap kalau kritikan itu bisa memotivasi dan membangun anak supaya bisa lebih pintar, lebih kuat dan lebih hebat lagi. Belakangan ini aku suka main game bareng anak pria kami yang paling kecil. Gamenya itu butuh kerjasama kami untuk mengalahkan musuh, aku mengontrol karakter utamanya, ia mengontrol topi si jagoan yang bisa terbang kemana-mana untuk menabrak musuh. Karena aku cukup kompetitif kalau main game, awal-awalnya aku suka kesal kalau topi yang dikontrol dia itu terbang kemana-mana dan mengakibatkan aku terkena musuh dan mati. Kalau sudah kesal begitu, aku mulai mengkritik dia. Menariknya dia juga jadi sering mengkritik permainanku, kalau misalnya engga sengaja jatuh ke jurang dia bilang aku pemain yang payah. Aku cukup merasa bersalah suatu waktu saat aku lihat wajah dia yang kelihatan down setelah dikritik. Dia juga jadi suka bertanya 'was I helpful?' seakan-akan ngecek apa aku menganggap permainan dia baik atau tidak. Aku jadi sadar kalau kata-kata pedas dan negatif itu sebenarnya lebih menyakiti daripada memotivasi. Seorang anak butuh validasi dari bapaknya, karena ia masih belajar dalam hidup. Ia juga butuh tahu apakah bapaknya sayang pada dia atau tidak. Disini aku belajar kalau perkataan baik seorang bapak pada anaknya itu sangat penting dalam mempengaruhi pertumbuhan anak. Jadi benar kata Firman, kalau penting kita menyemangati anak kita dan bukan menjatuhkannya supaya ia jangan tawar hati sewaktu dewasa nanti.
Buatku, ajakan Tuhan untuk perbuatlah sesuatu dengan segenap hati untuk Tuhan itu berguna sekali untuk membimbing perilaku-ku dalam hubungan berkeluarga. Karena manusia yang kita kasihi pasti bakal bikin kesalahan dan membuat kita kesal. Kalau kita ingat untuk mengasihi mereka seperti mengasihi Tuhan, kita bisa lebih dikuatkan untuk menjalankan perintahNya.
Sekian sharingku tentang peran suami dan peran bapak, menurut saya. Di artikel selanjutnya, Puspa akan mensharingkan pandangan dia tentang peran istri dan peran ibu.
Tuhan Memberkati
