Saya banyak menjumpai anak-anak dewasa muda yang menderita penyakit kejiwaan dan keluarga mereka. Ada satu pengamatan yang membuat saya sedih. Banyak keluarga, biasanya sang ibu, yang menjauhi orang lain dan mulai menyendiri. Kalau ditanya kenapa, biasanya saya mendapat jawaban seperti ini:
• "Rumah saya berantakan karena engga sempet diberesin"
• "Saya engga bisa menjamu/nyiapin sajian, jadi engga mau ngundang orang"
• "Saya engga punya waktu, terlalu sibuk ngurus anak saya"
• "Saya malu orang melihat keadaan saya/anak saya"
Saat mereka menarik diri, biasanya mereka semakin menderita karena makin kesepian dan tidak mendapat support. Biasanya justru orang-orang sekitar mereka terus mencoba mendekati, memberi support, tapi malah ditolak. Saya melihat kalau semakin banyak masalah dalam hidupnya, semakin ada kecenderungan keluarga-keluarga untuk menjauhi orang lain.
Saya merenung bahwa sejak menikah dan punya anak, jumlah teman saya makin berkurang. Sebagai seorang introvert memang saya engga butuh terlalu banyak teman, tapi terkadang kalau sudah lama engga ketemu orang jadi merasa kesepian juga. Kehidupan berkeluarga emang sibuk, dipenuhi dengan pekerjaan, mengurus rumah tangga dan anak-anak semua itu menyita waktu. Gampang untuk say 'no' aja kalau diajak ketemuan dan menarik diri.
Buat saya, kalau sudah makin kurang ngobrol dengan orang lain itu biasanya makin susah untuk punya semangat hidup beriman. Doa dan baca kitab suci makin susah dilakuin. Sedangkan kalau ketemu sama orang-orang Katolik yang lain, biasanya bisa sharing-sharing tentang hidup dan ngobrol tentang kitab suci. Orang lain biasanya punya pandangan-pandangan lain yang menarik tentang iman dan Firman yang membuat saya belajar hal yang baru dan lebih bersemangat lagi.
Saya emang engga sering keluar dengan teman, tapi ada beberapa hal yang saya lakukan untuk bisa stay connected dengan orang lain. Salah satunya adalah bergabung dengan komunitas Katolik, dimana kita ada pertemuan sebulan dua kali. Di sel grup, beberapa keluarga bisa ngumpul dan doa bareng, setelahnya kami biasanya makan dan ngobrol bareng. Anak-anak kami juga ikut seneng karena mereka bisa main dengan teman-teman yang beda dari teman sekolah mereka. Saya juga ada grup bapak-bapak yang hobi nonton bareng atau ngelakuin kegiatan seperti main gokart. Kami ketemuan beberapa bulan sekali kalau sempet (dan dapet ijin istri). Ada juga beberapa keluarga yang merupakan temen deket, dimana kami ketemuan untuk dinner steak bareng. Kebetulan kami hobi steak dan ngobrol ngalor ngidul bareng.
Jadi, dari pengalaman saya dan keluarga-keluarga yang saya jumpai, saya jadi sadar akan pentingnya keluarga Katolik punya hubungan dengan sahabat-sahabat keluarga Katolik lainnya. Mereka bisa jadi sumber support dan penghiburan, telinga untuk mendengar dan orang-orang yang mendoakan kita.
Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.
1Ptr. 4:8-10
