Shallom semuanya,
Ada nggak diantara teman-teman yang kadang ngerasa kesel banget saat harus melakukan sesuatu tugas atau kewajiban? Rasanya ga pengen deh mengerjakannya tapi kamu harus, jadi kamu merasa terpaksa. Di dalam hati tidak ada yang namanya sukacita saat melakukannya dan yang ada hanya gerutu, sungut sungut dan kesedihan di hati. Kalo teman teman tidak pernah merasakan hal ini, syukur kepada Tuhan ya. Dan buat teman teman yang pernah mengalami peristiwa ini, kalian tidak sendirian.
Tak jarang, aku dilanda perasaan ini, apalagi kalo badan capek, rumah berantakan, barang bergeletakan di lantai dimana mana, lantai kamar, lantai ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, pokoknya kemana mata memandang, disitu aku melihat barang yang tidak pada tempatnya. Siapa tersangka atau pelakunya? Biasanya anak anak tapi kadang juga suami! Tentunya aku juga minta mereka beberes tapi ada kalanya harus aku yang mungutin barang barang tersebut. Rasanya cuman aku yang beresin rumah, yang lain cuman ngeberantakin. Betenyaaa.....
Hal lain yang beberapa waktu lalu sempat membuat aku menggerutu, sedih, marah pokoknya rasanya campur aduk, tapi juga yang menjadi inspirasi obrolan kali ini. Jadi ceritanya, kalian tau kan kalo anak pertama kami ada disability. Jadi dalam perkembangan dan kemampuannya membuat dia lebih lambat dibanding anak seusianya. Anak kami ini sudah masuk masa puber padahal kemampuan untuk memahami hal ini masih jauh. Di awal-awal masa puber ini, aku lah yang harus membersihkan apa saja yang berhubungan dengan hal itu kan, dan rasanya sulit buat aku menerima. Ada rasa marah, kecewa, sedih dan sejuta rasa lainnya yang bercampur aduk di hatiku. Sambil membersihkan semuanya itu, aku nangis dan curhat ke Tuhan Yesus.
Lalu aku teringat cerita Santa Theresia Lisieux (Teresia dari Kanak kanak Yesus) bagaimana dia melakukan hal-hal kecil, hal hal sederhana untuk Tuhan, sebagai bentuk cintanya untuk Tuhan Yesus. Setelah itu aku juga teringat suatu ayat Alkitab yang berbunyi "apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan" (Kolose 3:23). Masih dengan kesedihan, kemarahan, kekecewaan yang bercampur aduk, aku mempersembahkan yang aku lakukan (membersihkan, mencuci kotoran anakku) untuk Tuhan.
Malamnya aku mencari ayat yang aku ingat itu di dalam Alkitabku untuk membaca secara keseluruhan, satu perikop. Aku cukup kaget, karena selama ini yang aku ingat ayat ini disampaikan saat kita pelayanan, saat kita berelasi dengan teman atau orang lain. Ternyata judul perikop ini adalah "hubungan antara anggota anggota rumah tangga" Wow!
Mulai ayat ke 18, setiap ayat Santo Paulus menasehati jemaat di Kolose bagaimana istri harus bersikap, ayat selanjutnya bagaimana suami harus bertindak. Lalu anak-anak kepada orang tua, juga orang tua kepada anaknya. Jadi setiap peran didalam rumah tangga, mendapat nasehat yang berbeda dan yang kita bisa lihat berguna untuk membina relasi yang baik satu sama lain. Kemudian diayat 23, Paulus mengingatkan bahwa saat kita menghadapi tantangan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan, hendaknya kita ingat untuk setia melakukannya seperti kita melakukannya untuk Tuhan.
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kol 3: 23
Tuhan Memberkati
